Resensi: Nikah A-Z (4) Syarat, Akad, Mahar, Walimah

Berikut adalah resensi kajian Nikah A-Z audio 4, antum bisa di download disini untuk penjelasan lebih lanjut dan lengkap yang diisi oleh Ust. Ahmad Sabiq hafidzahullah. Topik utama dari bagian 4 ini adalah syarat, akad, mahar dan walimah.

SYARAT

  1. Laki-laki/wanita tersebut boleh dinikahi (bukan mahram)
  2. Ada wali
  3. Ada 2 orang saksi

AKAD NIKAH

Lafadz apa yang bisa digunakan untuk akad nikah? Dimulai dari yang berbahasa arab. Ada beberapa kalimat dalam bahasa arab yang kesepakatan para ulama yang sah dan yang tidak sah serta yang diperselisihkan oleh para ulama.

Lafadz yang sah:

Seorang wali atau seorang wakilnya wali (baik keluarga atau sulthan), dia bisa mengatakan (yang artinya “saya menikahkan kamu“) “angkahtuka” atau “zawwajtuka” secara terpisah masing-masing, atau digabungkan keduanya “angkahtuka wa zawwajtuka” .

Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menggunakan lafadz “zawwajtuka” dalam surat Al-ahzab ayat 37:

فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَراً زَوَّجْنَاكَهَا

Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia.

Begitu juga lafadz “nikah

وَلاَ تَنكِحُواْ مَا نَكَحَ آبَاؤُكُم مِّنَ النِّسَاء إِلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتاً وَسَاء سَبِيلاً

Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). (An-Nisaa’:22)

Ini adalah ijab.

Dan sang calon suami bisa mengatakan (yang artinya “saya terima nikahnya“) “Qabiltu nikahaha/zawwajaha” atau hanya (yang artinya “saya terima“) “Qabiltu“.  Ini adalah qabul.

Lafadz  yang tidak sah:

Yaitu lafadz-lafadznya bermakna tidak memiliki misalkan “saya pinjamkan” dsb.

Lafadz yang diperselisihkan:

Misalkan “Saya jadikan kamu memiliki anak saya“. Wallahu’alam bi shawab, yang sahih lafadz ini tidak sah. Yang sah yang telah dijelaskan diatas.

Akad selain bahasa arab?

Apakah pernikahan itu boleh menggunakan selain bahasa arab? Boleh. Dengan syarat lafadz dalam bahasa tersebut merupakan terjemah dari kata “nikah” atau “zawwaj“. Karena intinya adalah memahami, bahwa sang wali menyerahkan/menikahkan yang diwalikan untuk si calon suami.

Bagi orang (wali) yang tidak mampu berbicara (bisu), maka dapat menggunakan semua cara yang penting dipahami sebagai pernikahan, misal menggunakan bahasa isyarat, dsb, atau menggunakan tulisan dan cara ini lebih tepat.

Sedangkan yang sehat/tidak bisu maka yang sah adalah harus dengan menggunakan  lafadz dan bukan tulisan.

Bagaimana akad nikah melalui telepon, video, Internet?

Sah. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa akad nikah ini adalah akad agung. Farji (kemaluan) yang asalnya haram sekarang menjadi halal, orang tua (calon mertua) yang tadinya bukan orang tua menjadi orang tua, sehingga rentetan akibatnya menjadi panjang.

Bisa jadi diyakini 100% itu adalah suara si fulan, akan tetapi masih ada kemungkinan bahwa suara itu adalah suara palsu.

Mewakilkan akad

Sebagaimana wali bisa diwalkilkan maka menerima akad nikah pula bisa diwakilkan. Hanya saja lafadznya harus menggunakan lafadz perwakilan.

Saya wakilkan pernikahan saya kepada anda“, dan semisalnya. Dan dijawab “Saya terima perwakilan pernikahan dari anda“.

Si wakil nikah mengatakan “Saya nikahkan fulanah binti fulan kepada anda

Jika suami langsung “Saya terima nikahnya

Jika perwakilan dari suami “Saya terima pernikahan fulanah untuk si fulan

Ada sebuah rumor bahwa tidak boleh terputus antara ijab dan qabul. Ada 3 kemungkinan jawaban dari calon suami (qabul) terhadap perkataan si wali (ijab):

  1. Langsung, yaitu pada saat itu juga dijawab (qabul) oleh si calon suami. Sah.
  2. Ada jarak (jeda waktu) yang jauh. Misalkan setelah lafadz ijab si calon suami ada hajat kebelakang kemudian kembali untuk qabul. Ini tidak sah. Namun jika hanya misal karena bicara yang terputus/mic yang berpindah/batuk maka ini bukanlah masalah.
  3. Berpaling dari akad walaupun jasadnya dekat. Misalkan setelah sang wali mengucapkan kalimat ijab, si calon mengatakan pembicaraan yang lain yang meyebabkan jeda kemudian mengucapkan kalimat qabul, maka ini tidak sah.

Akad nikah tidak harus jabat tangan, walaupun hal ini tidak mengapa. Karena yang paling penting adalah lafadz.

Sunnah sebelum nikah adalah kutbah hajah yang dibaca wali (Innal hamdalillah nahmaduhu wa nastainu…hingga selesai), adapun ceramah setelahnya tidak mengapa, tidak ada larangan dan perintah.

MAHAR

Diberikan oleh calon suami kepada calon istri, sebagai ganti dari halalnya farji. Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَآتُواْ النَّسَاء صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْساً فَكُلُوهُ هَنِيئاً مَّرِيئاً

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan . Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (An-Nisaa’:4)

Seluruh ulama bersepakat bahwa wajibnya dengan mahar. Satu-satunya pernikahan yang boleh dengan mahar (bukan wajib) adalah Rasulullah saja yang diberi kekhususan.

Beberapa hukum yang berkaitan dengan mahar.

Tidak ada batasan minimal. Yang dijadikan batasan adalah sesuatu itu memiliki harga atau bisa memberi manfaat kepada sang istri. Karena mahar bisa dua macam, materi atau manfaat. Yang berupa materi tidak ada kadar minimal, yaitu sesuatu yang bisa dihargai meskipun harganya 100 rupiah.

Misal ada kejadian “saya nikahkan kamu dengan mahar 1 biji beras/1 sobek kertas” maka hal ini tidak boleh karena tidak ada harganya.

Atau mahar bisa berupa manfaat. Misal sang wali berkata “Saya nikahkan kamu dengan syarat kamu ajari dia”

Dalilnya, hadits yang sering kita temui:

أَنَّ امْرَأَةً جَاءَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ جِئْتُ لِأَهَبَ لَكَ نَفْسِي فَنَظَرَ إِلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَعَّدَ النَّظَرَ إِلَيْهَا وَصَوَّبَهُ ثُمَّ طَأْطَأَ رَأْسَه…ُ

“Bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, saya datang untuk menghibahkan diriku kepada Anda.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau menaikkan dan menurunkan pandangan kepadanya. Lalu beliau menundukkan kepalanya dan seterusnya..”(HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya)

Pada awalnya mahar yang disebutkan sarung, cincin besi, dan akhirnya sebagian dari surat al-quran.

Hadits ini merupakan dalil wajibnya mahar, tanpa batas minimal dan bisa berupa manfaat.

Kadar maksimal mahar tidak ada. Hanya saja sunnahnya untuk para akhwat meminta mahar yang ringan-ringan saja.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was allam bersabda : “Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya” (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih)

Akan tetapi jika sang suami berkehendak lebih dari itu maka tidak masalah.

Akad nikah tanpa menyebut mahar itu sah. Lantas bagaimana dengan maharnya? Maka dikembalikan secara umum di masyarakat di daerah tersebut pada umumnya (mahar misl). Karena hal ini banyak terjadi pada sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Mahar bisa dibayar pada waktu akad, kontan selesai akad atau cicil.

Mahar itu adalah milik istri dan sang suami tidak memilik hak sama sekali, terkecuali sang istri rela harta tersebut dipakai.

Akad nikah adalah sesuatu yang tidak boleh dibuat main-main. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Artinya : Tiga hal yang apabila diucapkan akan sungguh-sungguh terjadi, main-mainnya (pun) terjadi, yaitu nikah, thalaq, dan ruju’.” (Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2194), at-Tirmidzi (no. 1184), Ibnu Majah (no. 2039), al-Hakim (II/198) dan Ibnul Jarud (no. 712) dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Irwaa-ul Ghaliil (no. 1826))

Misal antum punya adik kemudian bercanda dengan teman, antum tidak punya orang tua lagi (sebagai wali) dan berkata “mau nggak nikah dengan adik saya?”, dan teman tsb berkata “mau”. Dan secara bercanda mengucapkan ijab dan qabul antum dan teman antum, maka nikahnya sah. Juga disaksikan oleh teman-teman antum sebagai saksi. Sedangkan maharnya adalah mahar misl.

Juga berhubungan dengan masalah talaq yang sangat berbahaya jika dibuat main-main, yang dibahas di kajian ceramah selanjutnya.

WALIMAH

Sesuatu yang diperintahkan, hukumnya masih diperselisihkan wajib atau tidaknya.  (Saya cenderung ke pendapat yang mewajibkan). Wallahua’alam.

“… Adakanlah walimah sekalipun hanya dengan seekor kambing.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 1854).

Perlu diingat kambing disini adalah sesuai dengan kebiasaan, maka misal di indonesia bisa disamakan dengan ayam atau semisalnya.

Walimah adalah setelah akad dan bukan sebelumnya.

Kalau bisa walimah tiga hari berturut-turut, jika tidak sanggup maka Allah tidak membebankan kepada hambaNya melainkan sesuai kemampuannya.

Kalau bisa akad dan nikah itu dilakukan di bulan syawwal, akan tetapi perlu diingat, jika kita hidup di suatu masyarakat yang disitu ada kebiasaan dilarang menikah di bulan tertentu maka dianjurkan untuk menikah dibulan tersebut untuk menyelisihinya.

[Rekaman terhenti sampai disini, padahal belum selesai]

Wallahu’alam.

———

Walhamdulillah.

9 Rajab, 1429H

@lab, Jinju, Korea Selatan

About these ads

3 Responses to “Resensi: Nikah A-Z (4) Syarat, Akad, Mahar, Walimah”


  1. 1 budiono September 15, 2011 pukul 12:43 pm

    Alhamdulillah.. sangat membantu bagi saya yang sedang mempeesipkan pernikahan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 14,403 hits

Kategori

Top Clicks

  • Tidak ada

Lihat Jadwal Kajian:


Jadwal Kajian Salaf

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: