Resensi: Nikah A-Z (3) Tanya Jawab

Berikut adalah resensi kajian Nikah A-Z audio 3, antum bisa di download disini untuk penjelasan lebih lanjut dan lengkap yang diisi oleh Ust. Ahmad Sabiq hafidzahullah. Topik utama dari bagian 3 ini adalah tanya jawab.

Pertanyaan-1:

Orang hamil sebelum menikah dan menikah ketika hamil, bagaimana menurut Islam? Apakah harus mengulangi akad nikah? Jika tidak mengulangi apakah berarti dia berzina?

Jawaban

Hamil sebelum nikah merupakan hal yang maklum dan anak yang dihasilkan adalah anak zina. Maka akan dibahas permasalahan yg kedua, menikah ketika hamil.

Anak yang dihasilkan dari perzinaan tidak mempunyai ayah. Hanya memiliki Ibu, karena air (mani) yang menghasilkan anak tersebut adalah tidak sah. Meskipun anak tersebut tidak berdosa:

وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَ

“Artinya : Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain”. (Al-An’am : 164)

namun terdapat beberapa hukum sebagai konsekuensi akan hal tersebut.

Mengenai wanita yang menikah ketika hamil, ada sedikit perselisihan di kalangan ulama. Namun mazhab yang sahih dalam hal ini -wallahu’alam-, harus ditinjau dari dua sisi.

Wanita itu hamil kemudian dinikahi, maka ada 2 kemungkinan yang terjadi yaitu laki-laki yang menghamili dan yang bukan.

Pernikahan dengan laki-laki yang bukan menghamilinya maka pernikahannya tidak sah, sedangkan jika yang menikahi adalah laki-laki yang menghamili dan dia itu diyakini hanya dia yang melakukan hal tersebut maka pernikahannya sah. Hal ini karena perzinahan tidak mengharamkan pernikahan yang dihalalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Akan tetapi sulit untuk memastikan bahwa laki-laki yang menikahi adalah benar-benar yang menghamili (si fulan), oleh karena itu Syaikh bin Baz, Syaikh Utsaimin -semoga Allah merahmati keduanya-, dan Lajnah Da’imah (lembaga fatwa Saudi Arabia) menghukum rata bahwa pernikahan di saat hamil adalah haram mutlak dan batal pernikahannya. Dan ini yang sebaiknya kita pegang. Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya”. (QS. At-Thalaaq:4)

Maka wanita (dan laki-laki) itu harus bertaubat. Dan harus mengulangi akad nikahnya, yaitu setelah si istri tersebut (yang dinikahi ketika hamil) telah melahirkan. Akad nikah yang sebelumnya tidak sah. Pengulangan akad nikah sama dengan nikah pertama kali dengan wali.

Jika tidak mengulangi akad nikah, maka dia berzina? Dalam hal ini bisa ia dan tidak. Tidak jika orang tersebut tidak tahu (orang awam/jahil), dan jima’nya sah (dalam artian bukan zina). Akan tetapi pada suatu ketika misal setelah berumur 50 tahun mengetahui akan hukum ini maka dia harus mengulangi akad nikahnya. Jika tidak, maka setelah dia mengetahui akan tetapi tidak mengulangi akadnya kemudian jima setelah mengetahui hal ini adalah zina.

Perlu diketahui bahwa akad nikah tidak sulit, cukup wali, saksi dan mahar yang tidak menyulitkan, dan walimah kecil-kecilan.

Pertanyaan-2:

Jika anak hasil nikah tersebut dinasabkan ke ibunya maka siapakah yang berhak menjadi wali nikah?

Jawaban

Anak hasil zina mungkin laki-laki atau perempuan. Jika laki-laki bukanlah masalah karena tidak membutuhkan wali. Bagaimana perempuan? Anak zina tidak memiliki saudara dari pihak ayah. Jika anak zina tersebut kembar maka hubungannya saudara seibu dan tidak bisa menikahkan (jika salah satu dari anak tersebut laki-laki).

Tidak ada satupun manusia di muka bumi ini yang bisa menjadi wali, maka yang menikahkan adalah wali sultan dalam hal ini pengadilan agama (KUA).

Pertanyaan-3:

Apakah anak tersebut sah atau tidak sah?

Jawaban

Kalau pada waktu nikah dipastikan sudah hamil, maka dipastikan bahwa itu anak zina. Akan tetapi pada waktu akad nikah kedua (laki-laki dan perempuan) tidak mengetahui bahwa si wanita hamil maka kita lihat.

Masa minimal kehamilan adalah 6 bulan. Dalilnya

Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan (QS. Al-Ahqaaf:15)

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (QS. Al-Baqarah:233)

Maka 30 bln (2 thn 6 bln) – 2 thn = 6 bln dihitung dalam hijriah bukan masehi.

Maka jika seseorang menikah kemudian lahir setelah kurang dari 6 bln maka anak tersebut anak zina -semoga Allah melindungi kita dari hal semacam ini-.

Pertanyaan-4:

Menikahi wanita mandul?

Jawaban

Merupakan pilihan bagi laki-laki untuk menikahi wanita yang tidak mandul.

Yakinlah jika dia adalah seorang wanita shalihah dan berdoa kepada Allah, maka yakinlah Allah akan menolongnya dan memberi jalan keluar.

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar”. (QS. At-Thalaaq:2)

Tidak ada seorang pun dimuka bumi ini yang tidak memiliki jodoh.

Pertanyaan-5:

Bagaimana hukumnya ikhwan dan akhwat yang akan menikah janjian untuk saling bertemu di suatu tempat untuk nadzor, tanpa ada mahram dari pihak akhwat? Apakah murabbi bisa menjadi pendamping/mahram?

Jawaban

Kemungkinan yang terjadi pada pertemuan adalah khalwat (berdua-duaan).

Jika mahram tidak bisa didatangkan karena faktor jarak yang jauh maka nadzor jarak jauh. Bagaimana caranya?

Si laki-laki bilang ke akhwat untuk berjalan di suatu jalan X pada waktu Y di tempat umum Z.

Atau si pihak laki-laki coba untuk mencari-cari waktu kapan si akhwat biasanya beraktifitas (misal pulang kuliah).

Murabbi bukanlah mahram -ini adalah istilah orang2 hizbiyyun, harokiyyun-, murabbi adalah ustadz.

Permasalahan sekarang terkadang dari pihak keluarga dan akhwat setuju, si laki-laki setuju sedangkan murabbi tidak. Maka apakah hak dari murabbi untuk mengatakan ya atau tidaknya suatu pernikahan? Apakah dia merasa lebih berhak dari wali?

Baca cerita mengenai hal ini disini.

Pertanyaan-6:

Seorang akhwat yg diangkat anak oleh orang lain sedangkan dia mengetahui ayah, kakak dan paman kandungnya. Dan dia akan menikah, maka bolehkah kakak laki-laki dari orang tua angkat menjadi wali?

Jawaban

Tidak ada anak angkat dalam Islam, suatu topik tersendiri.

Orang tua angkat bukan wali, terkecuali jika yang mengangkat anak tersebut adalah wali misal paman dari pihak ayah.

Jika akhwat tersebut masih ingin diwakilkan dari kakak dari orang tua angkat, maka si akhwat harus minta izin ke pada kakak kandung misal lewat telp “Kak, tolong nikahkan saya” atau “kak tolong pernikahan saya di wakilkan kepada si A karena dia orang yang berbudi kepada saya”.

Maka kakak kandung tersebut harus dengan lafaz “Saya nikahkan perwalian saya menikahkan kamu dengan si fulan”, maka setelah itu si kakak angkat berhak menjadi wakil untuk menikahkan si akhwat. Maka si kakak kandung ketika akad nikah melafazkan “Saya menikahkan fulanah binti fulan (bapak kandung) dengan fulan bin fulan”, bukan dengan lafaz “adik saya”. Si kakak kandung sebagai wakil.

Pertanyaan-7:

Bagaimana dengan pernikahan yang telah dilakukan tanpa wali tapi menghadirkan dua saksi, dan juga orang tua setuju, dan keduanya saling suka?

Jawaban

Yang penting maka nikah ini adalah nikah tanpa wali walaupun orang tua setuju. Maka kita anggap setujunya orang tua ini adalah menerima lamaran bukan disaat akad.

Nikah tanpa wali adalah batal maka harus nikah ulang secara syar’i bukan secara hukum (KUA).

Pernikahan itu bukanlah main-main dan merupakan perjanjian yang berat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

. وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَى بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنكُم مِّيثَاقاً غَلِيظاً

Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat. (QS. An-Nisaa’:21)

Wallahu’alam

——–

Walhamdulillah.

8 Jumada Al-Akhirah, 1429

@lab, Jinju, Korea Selatan

Iklan

2 Responses to “Resensi: Nikah A-Z (3) Tanya Jawab”


  1. 1 Hacker Februari 3, 2009 pukul 10:15 pm

    ada yang tahu kapan dan tanggal berapa rasulullah menikah dengan istri pertama siti khadijah??

  2. 2 muslim September 8, 2014 pukul 7:46 pm

    BERMUSYAWARAH SEBELUM MENIKAHKAN

    Tanya:
    Bismillah. Ada seorang wanita ingin menikah, ayahnya sudah meninggal dunia. Dia mempunyai 2 (dua) kakak laki-laki dan satu adik laki-laki, (pertanyaannya):

    1. Siapakah yang berhak menjadi wali?.
    2. Jika kakak nomor 2 (dua), tidak setuju dengan calon, disebabkan jelek agama dan jeleknya pergaulannya, apa bisa dikatakan walinya tidak menyetujuinya?.
    3. Beberapa waktu yang lalu, wanita tersebut dinikahkan oleh seorang kiyai, yang bertindak sebagai wali hakim. Apa benar penikahan yang seperti ini?.
    4. Apakah pamannya bisa menjadi wali bagi wanita tersebut, apa syaratnya?. Mohon faidahnya, Jazakallohu khoiro. Barrokallohu fiik. (Pertanyaan Dari Malang-Jawa Timur).

    Jawab:

    بسم الله الرحمن الرحيم

    Termasuk dari suatu kebaikan pada keluarga adalah adanya musyawarah di antara mereka, dengan tidak adanya bapak dan yang ada hanya saudara-saudara bagi wanita tersebut, itu sudah cukup untuk diajak bermusyawarah, kalau salah satu dari saudara-saudara prempuan itu bertindak sebagai wali, yang dia sudah berakal dan sudah baligh maka itu sudah cukup sebagai wali dan pernikahan wanita dengan perwaliannya itu sudah teranggap sah.
    Dan bukan suatu syarat harus para wali bersepakat (setuju) semuanya.

    Yang tidak sah pernikahannya kalau dinikahkan oleh kiayi, yang kiyai tersebut bukan wali dari wanita tersebut dan dia tidak mendapatkan persetujuan dari wali wanita tersebut, serta kiyai tersebut bukan pula hakim (penguasa) kaum muslimin, karena Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

    لا نكاح إلا بولي

    “Tidak ada nikah kecuali dengan wali”.
    Beliau juga berkata:

    أيما امرأة نكحت بغير إذن وليها فنكاحها باطل

    “Wanita mana saja yang dia menikah dengan tanpa izin wali maka nikahnya adalah batil”.

    Bila keberadaan kiayi tersebut bukan wali dan tidak pula mendapatkan izin dari wali wanita tersebut dan bukan pula termasuk wali hakim (penguasa) kaum muslimin maka dia menikahkan wanita tersebut dengan cara batil, pernikahan wanita tersebut juga batil.

    Adapun paman dari wanita tersebut boleh menjadi wali bila saudara-saudara wanita itu menyerahkan perwalian kepadanya, atau tidak ada lagi para wali baru paman menjadi wali.

    Adapun urutan wali yaitu bapak kemudian kakek dan di atasnya lagi ya’ni bapaknya kakek. kemudian putra kemudian putranya putra ya’ni cucu dan di bawahnya. Kemudian para saudara-saudara, kemudian putra-putra mereka (selain saudara bagi ibu dan anaknya), kemudian para paman dan putra-putranya.

    Jadi paman berada pada urutan yang jauh dari saudara-saudara wanita, oleh karena itu tidak dibenarkan bagi paman melangkahi saudara-saudara wanita tersebut kecuali setelah mendapatkan izin dari mereka, atau kalau wanita sudah tidak punya wali-wali melainkan paman dan yang setelah paman.

    Begitu pula kalau bapak sudah meninggal maka saudara-saudara wanita itu sebelum mereka melangkah maka melihat kepada kakeknya, adakah kakeknya masih hidup?, kalau masih ada, maka dia lebih pantas untuk menjadi wali, dan kalau kakeknya tidak menginginkan itu maka boleh bagi para saudara-saudara wanita itu untuk menjadi wali terhadap saudari mereka yang masih gadis, namun kalau janda dan dia memiliki putra yang sudah baligh dan berakal maka putranya lebih berhak menjadi wali.
    Wallohu A’lam.

    Dijawab oleh:
    Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy Hadahulloh wa ‘Afahu di Darul Hadits Sana’a (14 Dzulqo’dah 1435).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 18,550 hits

Kategori

Top Clicks

  • Tidak ada

My Panoramio


%d blogger menyukai ini: