Takdir?

Alhamdulillah, banyak artikel-artikel bermanfaat yang membahas mengenai takdir yang insyaAllah secara jelas dan terperinci.  Beberapa artikel sebagai referensi (silahkan dibaca sebelum melanjutkan) diantara lain:

  1. Iman kepada takdir
  2. Memahami takdir ilahi
  3. Takdir Allah tidak kejam
  4. Google Islam

Bukanlah hak saya untuk menjelaskan takdir dari ilmu saya yang secuil, hanya saja beberapa hari ini saya teringat 3 kejadian yang masih teringat jelas di dalam benak saya, yang saya kira bermanfaat untuk dibagi. Kejadian2x tersebut adalah:

  • Hampir 3.5 Tahun yang lalu, ketika masih kost di depok, terjadi perdebatan kecil dengan seorang teman yang berpendapat bahwa ketika seseorang bunuh diri, maka itu adalah kehendaknya sendiri dan bukan atas kehendak Allah. Akan tetapi jika dia tidak bunuh diri (dalam keadaan normal) maka Allah mengetahui keadaan sebelum dan sesudahnya.
  • Masih ketika kuliah S1, tanpa disengaja buku catatan teman saya -seorang non muslim- tanpa sengaja terbawa.  Iseng-iseng, mungkin bisa buat dibaca karena saya males nyatet, saya menemukan di belakang buku tersebut tertulis -mungkin dari mentoring/pelajaran rohani- bahwa di dalam agama Islam (muslim) itu semua serba dipaksa, dan bahwa semua kehendak mahluk telah ditentukan dan diciptakan oleh Tuhan. Demikianlah redaksinya.
  • Baru-baru ini sekitar bulan yang lalu, terjadi perdebatan cukup sengit antara saya dengan rekan kerja saya, seorang posdoctorate. Beliau berasal dari agama Hindu dan akhir-akhir ini “beraliran” god without religion. Dalam perdebatan kami, dia selalu menggunakan akal -tentunya dia tidak akan menerima dalil-dalil dari Al-quran-, hampir-hampir syubhatnya/keragu-raguannya menyusup didalam hati saya. Dan alhamdulillah Allah menolong saya dan bisa “menepis” keraguan dari argumen-argumennya.

Silahkan baca artikel referensi yang saya berikan diatas untuk jawaban yang lebih baik.

InsyaAllah akan saya tulis ringkas dari 3 kejadian tersebut. Secara akal, jika seandainya Tuhan tidak mengetahui perkara seorang hamba dari lahir hingga matinya, bahkan akhir kehidupannya surga atau neraka, maka pantaskah disebut Tuhan?

Semua mahluk yang sehat akalnya pasti akan mengatakan “tidak pantas”, karena hal itu melambangkan lemahnya kekuasaan dan menafikan sifat ketuhanan.

Keterpaksaan?

Ketika sebilah pisau telah berada ditangan anda, maka tangan dan kehendak siapakah yang menyuruh anda melakukan bunuh diri? Pasti setiap orang akan menjawab “tangan anda”, lantas mengapa anda menyalahkan takdir Allah?

Setiap orang yang telah datang kepadanya petunjuk agama Islam dan dengan pikiran dan kehendaknya dia menerima atau menolak. Yang dengan keputusan ini pula ditentukan akhir kehidupannya surga atau neraka. Lantas dimanakah rasa keterpaksaan dan menuduh Tuhan telah tidak berbuat adil kepadanya?

Pengetahuan (Ilmu)

Jika masih bingung, maka bayangkanlah bahwa Takdir adalah ilmu/pengetahuan Allah. Dia mengetahui semua kejadian di jagad alam raya ini dan Dia lah yang telah menentukan segalanya, baik maupun buruk. Akan tetapi manusia diberi kehendak, akal dan pikiran. Yang dengannya dia bisa mencerna yang baik dan yang buruk, yang hak dan yang batil. Tidak dipaksa.

Takdir ada empat tingkatan:

  1. Beriman kepada ilmu Allah yang ajali sebelum segala sesuatu itu ada. Di antaranya seseorang harus beriman bahwa amal perbuatannya telah diketahui (diilmui) oleh Allah sebelum dia melakukannya.
  2. Mengimani bahwa Allah telah menulis takdir di Lauhul Mahfuzh.
  3. Mengimani masyi’ah (kehendak Allah) bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah karena kehendak-Nya.
  4. Mengimani bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu. Allah adalah Pencipta satu-satunya dan selain-Nya adalah makhluk termasuk juga amalan manusia.

Intermezzo:

Beberapa teman mengatakan “Dhan, blognya isinya nikah semua” bahkan ada yang sambil menertawakan😦, sedihnya. Dia mungkin bisa tertawa sekarang, dan mungkin saja dia menangis setelah menikah nanti.

Saya bingung, setiap ada yang nikahan, sering terdengar ucapan “keluarga sakinah mawaddah wa rahmah”. Akan tetapi dalam realitanya, apakah dia telah ada usaha menuju kesitu? Apakah hanya dari modal cinta saja dan doa tanpa usaha?

Untuk saat awal2 mungkin cinta bisa seperti api unggun, dunia seperti milik berdua saja yang lain numpang, tp apakah nantinya setelah 2, 5, 10 tahun masih tetap sama apa sudah seperti korek api kayu?

Bahkan ada yang masih malu-malu untuk membaca buku/artikel/majalah, walaupun saya sendiri pernah mengalami hal ini.

Entahlah, yang jelas Ilmu sebelum berkata dan beramal. Wallahu’alam kapan amalnya, yang jelas pernikahan itu adalah perjanjian yang sangat kuat, dan bukan main-main. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَى بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنكُم مِّيثَاقاً غَلِيظاً

Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat. (An-Nisaa:21)

Dan ini -insyaAllah- menjadi salah satu usaha saya untuk menggapai keluarga sakinah mawaddah warahmah nantinya. Aaamin (tolong diaminkan). Semoga bermanfaat untuk dibaca. Dan selamat juga untuk teman saya yang akan menikah dalam beberapa bulan kedepan dan lagi-lagi “Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah”. Aaamin.

Wallahu’alam.

Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam, dan semoga kita dikumpulkan dengan beliau di JannahNya. Aaamin.

0 Responses to “Takdir?”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 18,109 hits

Kategori

My Panoramio


%d blogger menyukai ini: